Setiap hari Aditya melewati Terowongan Casablanca dua kali.
Pergi dan pulang. Sudah empat tahun. Tidak pernah ada masalah.
Sampai malam itu, di titik tengah terowongan, radionya mati sendiri.
Dan dari kursi penumpang yang kosong, ada yang berbisik menyebut namanya.
Bukan suara acak. Bukan suara asing. Tapi suara yang sangat dia kenal. Suara seseorang yang sudah delapan tahun hilang tanpa jejak. Seseorang yang perlahan-lahan dia lupakan karena hidup terus berjalan.
Tapi ternyata yang dilupakan tidak selalu benar-benar pergi.
Kadang mereka menunggu. Di tempat-tempat yang tipis batasnya. Di antara kebisingan dan keheningan. Di antara yang masih ada dan yang sudah tidak ada lagi.
Dan mereka hanya butuh satu hal.
Seseorang yang mau berhenti sejenak dan mendengarkan.
Setiap hari Aditya melewati Terowongan Casablanca dua kali.
Pergi dan pulang. Sudah empat tahun. Tidak pernah ada masalah.
Sampai malam itu, di titik tengah terowongan, radionya mati sendiri.
Dan dari kursi penumpang yang kosong, ada yang berbisik menyebut namanya.
Bukan suara acak. Bukan suara asing. Tapi suara yang sangat dia kenal. Suara seseorang yang sudah delapan tahun hilang tanpa jejak. Seseorang yang perlahan-lahan dia lupakan karena hidup terus berjalan.
Tapi ternyata yang dilupakan tidak selalu benar-benar pergi.
Kadang mereka menunggu. Di tempat-tempat yang tipis batasnya. Di antara kebisingan dan keheningan. Di antara yang masih ada dan yang sudah tidak ada lagi.
Dan mereka hanya butuh satu hal.
Seseorang yang mau berhenti sejenak dan mendengarkan.