Bab 1
Saat Lahir di
Dunia yang Fana, Kalau Laki-laki, dan Fani, Kalau Perempuan
“Oek, oek!” Begitulah biasanya suara bayi baru lahir. Tidak ada bayi yang
lahir dengan suaranya seperti, “Eko, eko!” maupun “Oke, oke!”
Jadi, tetap oek, meskipun Eko dan Oke adalah tiga huruf yang sama, hanya
dibolak-balik hurufnya.
Kita lahir di dunia pastilah berasal dari rahim ibu kita. Lahir, mak
ceprot, terus menangis, maka itu sudah membuat keluarga kita yang menunggu
menjadi senang. Sebelumnya, mereka menunggu dengan cemas. Tentunya, ini tidak
ada kaitannya dengan Indonesia Cemas, eh, Indonesia Emas.
Ibu kita sudah tua kehamilannya. Dan, keluarga masih terus menunggu sampai
benar-benar tiba saatnya. Akhirnya, saat itupun tiba. Kalau Saad, itu nama
orang, yang belum tentu tiba di situ juga.
Tangisan kita saat lahir menandakan bahwa kita berhasil melewati satu lagi
fase kehidupan. Ketika di dalam rahim, kita merasa hangat dan sangat
terlindungi oleh ibu kita, tanpa harus menyewa satpam maupun surikiti, eh,
maksudnya sekuriti.
Meskipun tidak ada teman di dalam, kecuali kita punya saudara kembar,
tidak ada mainan atau bahkan HP di dalam, tetapi kita merasa tenang-tenang
saja. Kita tidak merasa khawatir dengan rezeki kita. Kira-kira nanti masih
dapat jatah MBG atau tidak, ya? Tidak ada pikiran semacam itu. Pokoknya, kita
jalani saja kehidupan kita di dalam rahim tersebut.
Walaupun, agar beda di paragaf ini, maka diawali dengan kata “walaupun”
karena paragraf sebelumnya pakai kata “meskipun”, walaupun, diulangi lagi,
tidak ada baju di dalam, tetapi kita tetap nyaman. Tidak kedinginan, hangat
begitu saja, lah. Dan, memang susah kita bercerita seberapa hangatnya di dalam,
karena kita belum tahu apa-apa saat itu. Kita juga tidak bisa menuliskan
keadaan di dalam, meskipun sekarang eranya media sosial.
Apalagi foto selfie di dalam, lebih tidak memungkinkan lagi. Kan sudah
dibilang tadi tidak ada HP di dalam. Yang bisa dilihat di dalam mungkin juga
namanya HP, yaitu: Hati dan Paru-paru. Cieh.
Tangisan kita, menjadi hari yang berbahagia bagi kita. Itulah hari ulang
tahun kita yang diperingati setiap tahun, kalau ada, sih, yang mau
memperingati. Misalnya, tanggal lahirnya 20 Maret seperti saya, maka tiap
tanggal 20 Maret itu, kita merasa bahagia.
Kita pun digolongkan ke dalam rasi bintang. Kalau 20 Maret, seingat saya,
masuk kategori Pisces. Lambangnya ikan. Ada pula yang berbintang Sagitarius.
Ini mungkin orang yang sering ke dokter gigi, karena kepanjangan dari
Sagitarius adalah sayang gigi tak terirus.
Ketika ulang tahun, maka semakin bertambah tahun, maka semakin bertambah
umur kita secara angka. Saat ulang tahun, kita merasa bahagia. Mungkin dengan
mentraktir teman-teman kita, entah itu bakso rudal, bakso tenis, bakso mekar,
maupun bakso-bakso lainnya. Bentuk bakso yang bulat menjadi tanda bahwa kita
lahir memang telanjang bulat. Tidak ada yang namanya telanjang kotak atau pun
telanjang segitiga.
Padahal, jika kita mau berpikir lebih jauh, ini mungkin berpikir sambil
naik pesawat karena saking jauhnya, tanggal ulang tahun adalah tanggal ibu kita
bertaruh nyawa. Beliau berada di antara hidup dan mati. Dan, Alhamdulillah,
akhirnya hidup bersama kita.
Bisa memeluk kita, mendekap kita, bahkan menyusui kita. Ada juga yang
kehilangan ibunya setelah melahirkan. Ini memang pertaruhan hidup dan mati.
Sakitnya melahirkan itu seperti 20 tulang yang patah bersamaan. Ada yang
mengatakan begitu.
Makanya, berbakti kepada kedua orang tua itu adalah amalan yang sangat
dicintai oleh Allah. Atas perjuangan kedua orang tua, maka kita lahir ke dunia
ini. Terutama ibu yang sampai bersimbah darah. Simbah biasanya berkaitan dengan
orang sepuh, tetapi bersimbah darah berarti simbah yang penuh dengan darah. Eh,
begitu, ya, maknanya?
Bab 1
Saat Lahir di
Dunia yang Fana, Kalau Laki-laki, dan Fani, Kalau Perempuan
“Oek, oek!” Begitulah biasanya suara bayi baru lahir. Tidak ada bayi yang
lahir dengan suaranya seperti, “Eko, eko!” maupun “Oke, oke!”
Jadi, tetap oek, meskipun Eko dan Oke adalah tiga huruf yang sama, hanya
dibolak-balik hurufnya.
Kita lahir di dunia pastilah berasal dari rahim ibu kita. Lahir, mak
ceprot, terus menangis, maka itu sudah membuat keluarga kita yang menunggu
menjadi senang. Sebelumnya, mereka menunggu dengan cemas. Tentunya, ini tidak
ada kaitannya dengan Indonesia Cemas, eh, Indonesia Emas.
Ibu kita sudah tua kehamilannya. Dan, keluarga masih terus menunggu sampai
benar-benar tiba saatnya. Akhirnya, saat itupun tiba. Kalau Saad, itu nama
orang, yang belum tentu tiba di situ juga.
Tangisan kita saat lahir menandakan bahwa kita berhasil melewati satu lagi
fase kehidupan. Ketika di dalam rahim, kita merasa hangat dan sangat
terlindungi oleh ibu kita, tanpa harus menyewa satpam maupun surikiti, eh,
maksudnya sekuriti.
Meskipun tidak ada teman di dalam, kecuali kita punya saudara kembar,
tidak ada mainan atau bahkan HP di dalam, tetapi kita merasa tenang-tenang
saja. Kita tidak merasa khawatir dengan rezeki kita. Kira-kira nanti masih
dapat jatah MBG atau tidak, ya? Tidak ada pikiran semacam itu. Pokoknya, kita
jalani saja kehidupan kita di dalam rahim tersebut.
Walaupun, agar beda di paragaf ini, maka diawali dengan kata “walaupun”
karena paragraf sebelumnya pakai kata “meskipun”, walaupun, diulangi lagi,
tidak ada baju di dalam, tetapi kita tetap nyaman. Tidak kedinginan, hangat
begitu saja, lah. Dan, memang susah kita bercerita seberapa hangatnya di dalam,
karena kita belum tahu apa-apa saat itu. Kita juga tidak bisa menuliskan
keadaan di dalam, meskipun sekarang eranya media sosial.
Apalagi foto selfie di dalam, lebih tidak memungkinkan lagi. Kan sudah
dibilang tadi tidak ada HP di dalam. Yang bisa dilihat di dalam mungkin juga
namanya HP, yaitu: Hati dan Paru-paru. Cieh.
Tangisan kita, menjadi hari yang berbahagia bagi kita. Itulah hari ulang
tahun kita yang diperingati setiap tahun, kalau ada, sih, yang mau
memperingati. Misalnya, tanggal lahirnya 20 Maret seperti saya, maka tiap
tanggal 20 Maret itu, kita merasa bahagia.
Kita pun digolongkan ke dalam rasi bintang. Kalau 20 Maret, seingat saya,
masuk kategori Pisces. Lambangnya ikan. Ada pula yang berbintang Sagitarius.
Ini mungkin orang yang sering ke dokter gigi, karena kepanjangan dari
Sagitarius adalah sayang gigi tak terirus.
Ketika ulang tahun, maka semakin bertambah tahun, maka semakin bertambah
umur kita secara angka. Saat ulang tahun, kita merasa bahagia. Mungkin dengan
mentraktir teman-teman kita, entah itu bakso rudal, bakso tenis, bakso mekar,
maupun bakso-bakso lainnya. Bentuk bakso yang bulat menjadi tanda bahwa kita
lahir memang telanjang bulat. Tidak ada yang namanya telanjang kotak atau pun
telanjang segitiga.
Padahal, jika kita mau berpikir lebih jauh, ini mungkin berpikir sambil
naik pesawat karena saking jauhnya, tanggal ulang tahun adalah tanggal ibu kita
bertaruh nyawa. Beliau berada di antara hidup dan mati. Dan, Alhamdulillah,
akhirnya hidup bersama kita.
Bisa memeluk kita, mendekap kita, bahkan menyusui kita. Ada juga yang
kehilangan ibunya setelah melahirkan. Ini memang pertaruhan hidup dan mati.
Sakitnya melahirkan itu seperti 20 tulang yang patah bersamaan. Ada yang
mengatakan begitu.
Makanya, berbakti kepada kedua orang tua itu adalah amalan yang sangat
dicintai oleh Allah. Atas perjuangan kedua orang tua, maka kita lahir ke dunia
ini. Terutama ibu yang sampai bersimbah darah. Simbah biasanya berkaitan dengan
orang sepuh, tetapi bersimbah darah berarti simbah yang penuh dengan darah. Eh,
begitu, ya, maknanya?